Lpk | Trenggalek – Kecewa dengan ulah Ketua Gapoktan, Kelompok Petani Gemah ripah 3 (Poktan) warga Desa Krandengan Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek memenui Sorotan. Pasalnya, Ketua Gapoktan Ismail menjabat sudah berpuluh puluh tahun Di duga dan diindikasikan banyak melakukan peyelewengan dan pelanggaran dalam jabatannya dan untuk memperkaya diri kurang tranfaran.
Salah Satu Kelompok Tani (Poktan) Gemahripah 3, Nur kolis yang juga Mantan Kepala desa krandegan Angkat bicara mengatakan bahwa,Ketua Gapoktan Ismail diduga Kuat telah banyak melakukan penyelewengan dan penyimpangan program batuan dari pemerintah. Program pertanian yang diberikan pemerintah. masalah masalah perdatanya cukup di forum tetapi pidananya akan di limpahkan ke Aparat penegak hukum ujar Nur kolis .
“Desa kami, mayoritas bertani tapi pertaniannya tidak pernah maju dan tidak berkembang. Ini salah satu faktornya karena Ketua Gapoktan tidak peduli kepada petani tapi hanya mementingkan diri pribadinya sendiri. Karena banyak bantuan yang tidak diberikan dan tidak bisa dimanfaatkan oleh petani, kami kelompok Tani sepakat ketua Gapoktan direformasi, ” ungkap salah satu petani.
Nur Kolis menjelaskan bahwa, Ismail menjabat Ketua Gapoktan Gemahripah 3 Krandegan Kurang lebih 20 thn. Selama dijabat Ismail, pertanian dan petani bukan maju tapi malah amburadul. “Misalnya, keberadaan kios pupuk yang menyalurkan pupuk subsidi, justru petani tidak bisa mendapatkan sesuai jatahnya. Banyak lahan sawah produktif Menjadi kekeringan, ” ujarnya.
Selain itu, Ketua Gapoktan menjabat sudah berpuluh puluh tahun bukannya pertanian malah baik dan maju, malah semrawut Dan kurang trasfaran.” tahu informasi itu dari petani dan kelompok tani yang ada di desa krandegan. Karena ulahnya Ketua Gapoktan itu kami minta agar Ketua Gapoktan direformasi alias diganti,” ujar Nurkolis sebagai petani yang juga seorang Mantan lurah.
bahwa alat alat pertanian dari bantuan pemerintah bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh petani untuk kelangsungan kebutuhan di sawah. Tapi informasinya yang muncul di petani, keberadaan bantuan alat alat itu tidak jelas dimana jluntrungnya.
”Saya heran, alat alat bantuan pemerintah kok tidak difungsikan dengan jelas keberadaannya dimana. Apalagi, informasi yang kami terima, di desa ini minim sekali ada pertemuan, musyawarah antar petani dengan Gapoktan serta kelompok petani,” ungkapnya.
Sehingga, beber Nurkolis, kalau ada program bantuan dari pemerintah, petani tidak banyak yang mengetahui. Pernah ada informasi ada bantuan berupa bibit kedelai dari pemerintah, tapi petani tidak ada yang menerima bantuan bibit itu. Justru beredar kabar di petani, bibit Kedelai itu dijual belikan.
”Ini kan sudah keterlaluan, jika Ketua Gapoktan seenaknya sendiri. Informasi seperti itu, kami minta pihak pemerintah menindak lanjuti dan agar diungkap secara transparan bisa dikroscek ke kelompok tani dan petani sesuai fakta yang ada,” terangnya.
Sholikin menambahkan, terkait soal pupuk subsidi, datangnya tidak konsisten. Pupuk datang tapi saatnya tidak tepat waktu petani membutuhkan pupuk untuk tanaman. Pendistribusian pembagian jatah pupuk bersubsidi di kios juga amburadul.
Terkait reformasi Ketua Gapoktan Gemahripah 3, kelompok tani menyatakan sepakat tersebut direspon Kepala Desa krandegan ,
Agus Jalil, Kepala Desa Krandegan mempersilahkan jika itu keinginan petani dan kelompok Tani, apalagi kalau sudah sesuai AD, ART. Ya, monggo-monggo saja, kami hanya memfasilitasi saja. Kalau mekanisme dan Ad ART seperti itu, pungkasnya.
Reporter :Imam
